Permintaan turun, petani kopi Kulon Progo jual kopi secara daring

0
72

Permintaan turun, petani kopi Kulon Progo jual kopi secara daring

selama pandemi ini, permintaan kopi Suroloyo baik yang sudah diolah maupun masih dalam bentuk biji turun signifikan. …

Kulon Progo (ANTARA) – Petani kopi di Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, mulai mengemas kopi hasil panen dan menjualnya secara daring, meski permintaan mengalami penurunan akibat pandemi COVID-19.

Salah satu petani kopi di Samigaluh Windarno di Kulon Progo, Minggu, mengatakan saat ini petani di Kecamatan Samigaluh sedang memasuki masa panen raya kopi jenis robusta dan arabika, namun  pandemi ini menyebabkan permintaan turun.

"Kami tetap memanen kopi yang siap petik. Kemudian kami olah dan dikemas dengan bagus, lebih awet," kata Windarno.

Baca juga: Kopi robusta flores ada di kedai Cafetoria Helsinki

Ia mengakui selama pandemi ini, permintaan kopi Suroloyo baik yang sudah diolah maupun masih dalam bentuk biji turun signifikan. Ia juga menjual kopi hasil produksinya secara daring supaya mampu bertahan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Windarno biasa menjual kopi biji ke luar area Kulonprogo. Kisaran harga untuk jenis robusta sebesar Rp150.000 ribu per kilogram. Kemudian, kopi jenis arabika mencapai Rp260.000 per kilogram. Dengan harga itu, ia bisa mengantongi minimal Rp10 juta. Namun sekarang nominal itu sulit dicapai.

"Penurunannya cukup tinggi ya, sebelum pandemi biasanya kami bisa menyuplai minimal 50 kilogram kopi Suroloyo baik robusta maupun arabika ke berbagai kedai kopi di DIY dan sekitarnya, sedangkan sekarang bisa 10 kg saja sudah syukur," katanya.

Baca juga: Muara Enim apresiasi konsep halal bi halal "Kopi Satukan Negeri" IMQ

Ia juga mengatakan selain bertani, dirinya juga membuka kedai dengan menu utama "Kopi Suroloyo Kedai" yang berlokasi di kawasan objek wisata Puncak Suroloyo. Pada saat akhir pekan dan musim liburan, kedainya dipadati pengunjung. Dalam sehari ia mampu menjual ratusan cangkir kopi, dengan kisaran harga Rp12.000 ke atas.

Namun saat awal pandemi, kunjungan wisatawan atau pencinta kopi turun drastis. Pada awal Juni ini mulai ramai kembali.

"Sekarang sudah mulai ramai, tapi belum seramai dulu," ungkapnya.

Baca juga: Persiapan restoran dan kafe di Jakarta sambut fase new normal

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kulon Progo Aris Nugraha mendukung langkah petani kopi. Pada masa pandemi ini, penjualan secara daring adalah cara efektif memasarkan produk.

"Dalam kondisi seperti ini  petani harus mampu menggunakan IT supaya mereka dapat memasarkan produknya secara daring," katanya.

Pewarta: Sutarmi
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Sumber ArtikelAntaranews

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.