Beranda Informasi IJB-Net: Perlu teknologi pascatangkap ikan untuk ekspor ke Jepang

IJB-Net: Perlu teknologi pascatangkap ikan untuk ekspor ke Jepang

IJB-Net: Perlu teknologi pascatangkap ikan untuk ekspor ke Jepang

Jakarta (ANTARA) – Ketua Umum Indonesia Japan Business Network (IJB-Net) Suyoto Rais mengatakan perlu pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi serta inovasi untuk meningkatkan kualitas pascatangkap perikanan untuk komoditi potensial ekspor ke Jepang.

"Kita bisa mengembangkan sumber daya alam Indonesia atau meningkatkan produk Indonesia untuk bisa diekspor ke Jepang dan ternyata kita perlu dukungan teknologi, dukungan finansial dan sumber daya manusia," kata Suyoto dalam webinar Teknologi dan Inovasi Indonesia Hadapi Covid 19, Jakarta, Selasa.

Jepang menjadi pasar potensial karena bagaimana pun Jepang masih mitra dagang utama Indonesia dan tujuan ekspor utama Indonesia.

"Indonesia sebenarnya bisa jadi mitra utama pemasok kebutuhan Jepang," tutur Suyoto.

Baca juga: Atase: RI berpeluang besar isi produk halal, ikan, dan kopi di Jepang

Baca juga: PT Perikanan Nusantara ekspor 50 ton ikan cakalang ke Jepang

Tuna dan sidat merupakan bagian dari komoditi impor Jepang.

Untuk tuna, kebutuhan Jepang hampir 400.000 ton per tahun, yang mana separuh lebih diimpor dari negara lain.

"Sayangnya kita hanya bisa ekspor ke jepang itu sekitar 6.000 ton saja atau 3 persen dari jumlah impor atau 1,5 persen dari total kebutuhan Jepang," tuturnya.

Menurut data Food and Agriculture Organization (FAO), Indonesia merupakan produsen tuna terbesar di dunia yang mana setiap tahun bisa menghasilkan 375.000 ton.

"Kita harus bisa menangani pascatangkap dengan baik agar bisa ekspor ke Jepang," ujar Suyoto.

Baca Juga :  KOPI SEDUH KEMANG, PELAJARI DI RUMAH

Di Jepang, begitu ikan ditangkap langsung dibersihkan dan dibuang bagian seperti insang, paru-paru dan darah, lalu dibekukan. Sebaliknya, di Indonesia proses itu baru dilakukan setelah mendarat.

"Itu membuat Jepang itu tidak mau menerima ekspor dari Indonesia dalam keadaan beku," ujar Suyoto.

Baca Juga :  PERHATIKAN MODE MEMBUAT KOPI SEDUH YANG NIKMAT DI KANTOR

Indonesia sudah bisa memasok produk ayam halal ke Jepang. April 2018, untuk pertama kalinya produk olahan daging ayam halal dari Indonesia berhasil masuk ke Jepang.

Masih ada tantangan untuk teknologi pasca panen dan ekonomi kreatif, karena Jepang juga menyukai buah, sayuran dan aksesoris.*

Baca juga: Perindo perluas ekspor gurita dari Natuna ke Jepang

Baca juga: SKIPM Mamuju awasi ekspor ikan terbang ke Jepang

Pewarta: Martha Herlinawati S
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Sumber ArtikelAntaranews

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Must Read

COFFEE MATES HARUS MENGETAHUI PETA KOPI DUNIA

Jika Anda pecinta kopi, tentu tersedia kepuasan tersendiri dikala Anda sanggup menikmati seduhan kopi dari bervariasi biji kopi yang tumbuh di beraneka belahan...

17.457 pasien RSD Wisma Atlet sembuh dari COVID-19

17.457 pasien RSD Wisma Atlet sembuh dari COVID-19 Jakarta (ANTARA) - Pasien sembuh COVID-19 di Rumah Sakit Darurat (RSD) Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta, hingga...

Tim Swab Hunter sasar tempat nongkrong anak muda di Surabaya

Tim Swab Hunter sasar tempat nongkrong anak muda di Surabaya Surabaya (ANTARA) - Tim Swab Hunter menyasar pelanggar protokol kesehatan khususnya di tempat nongkrong...

Dinas Sosial Lombok Utara salurkan bantuan untuk korban kebakaran

Dinas Sosial Lombok Utara salurkan bantuan untuk korban kebakaran Mataram (ANTARA) - Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara...

Komik "One Piece" dihentikan sementara karena "mangaka" sakit mendadak

Komik "One Piece" dihentikan sementara karena "mangaka" sakit mendadak Oda-sensei saat ini sedang dalam pemulihan, dan manga tersebut akan kembali dalam edisi ke-46 dari...