Mewujudkan rasa aman masyarakat Mimika di tengah KKB dan COVID-19

0
90

Mewujudkan rasa aman masyarakat Mimika di tengah KKB dan COVID-19

Sejumlah senjata api dan alat tajam diamankan aparat saat penggerebekan kamp KKB di Mimika. ANTARA/Evarianus Supar
Timika (ANTARA) – Di tengah upaya keras Pemerintah mengatasi pandemi COVID-19, ketenteraman masyarakat Kabupaten Mimika kembali terusik dengan terjadinya teror penembakan oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Mile 60, Distrik Tembagapura, Jumat (24/4).

Tiga truk trailer PT Freeport Indonesia yang sedang melintas mengangkut logistik dari wilayah dataran rendah (Pelabuhan Amamapare) menuju wilayah dataran tinggi (Tembagapura) menjadi sasaran penembakan.

Beruntung tidak ada korban dalam kejadian itu. Hanya kaca ketiga truk trailer itu pecah terkena tembakan peluru senjata api.

Pelaku penembakan ditengarai adalah KKB yang datang dari berbagai wilayah ke Tembagapura dengan komandan operasi bernama Lekagak Telenggeng. Demikian hasil penyelidikan yang disampaikan Kapolres Mimika AKBP I.G.G. Era Adhinata kepada wartawan.

Kelompok yang sama juga ditengarai dalangi sejumlah kasus teror penembakan di Kabupaten Mimika sejak Februari hingga Maret. Salah satu yang menghebohkan adalah penembakan terhadap sejumlah karyawan dan pusat perkantoran PT Freeport Indonesia di Kuala Kencana pada tanggal 30 Maret 2020.

Baca juga: Tiga truk trailer Freeport jadi sasaran tembak KKB


Tersangka Ivan Sambom dikawal aparat Brimob bersenjata lengkap. ANTARA/Evarianus Supar

Siapa Lekagak Telenggeng?

Rombongan besar KKB, sebagaimana keterangan Kapolda Papua Irjen Polisi Paulus Waterpauw, termonitor masuk ke Distrik Tembagapura, Mimika pada tanggal 14 Februari 2020.

Rombongan besar KKB yang merupakan gabungan dari empat kelompok itu dipimpin oleh Lekagak Telenggeng selaku komandan operasi.

Lekagak Telenggeng diketahui merupakan KKB Yambi yang bermarkas di Kabupaten Puncak Jaya.

Ikut dalam rombongan besar itu, yakni KKB Yambi, KKB Ilaga pimpinan Militer Murib, KKB Tembagapura pimpinan Seltius Waker, dan KKB Ugimba pimpinan Guspi Waker.

Kelompok-kelompok ini kemudian bergabung dengan KKB di wilayah Mimika yang dikenal sebagai "Kelompok Kali Kopi" pimpinan Joni Botak dan Hengky Wanmang.

Selah sehari tiba di Distrik Tembagapura, kelompok bersenjata tersebut langsung memulai aksinya.

Pada tanggal 15 Februari, mereka menyandera tiga guru yang bertugas di SDI Aroanop.

Mereka menduga guru-guru itu adalah personel TNI dan Polri. Namun, akhirnya guru-guru itu dilepas. Demikian keterangan Irjen Pol. Waterpauw saat menggelar rilis pengungkapan kasus penegakan hukum terhadap KKB di Mimika di Markas Komando Batalyon B Brimob Polda Papua, Timika, Kamis (16/4).

Baca juga: Kapolda: KKB eksekutor WN Selandia Baru sudah dilumpuhkan aparat

Baca juga: Tim Gabungan TNI-Polri petakan tempat persembunyian KKB Papua

Selanjutnya, pada tanggal 28 Februari KKB, kelompok itu melakukan penembakan di Kampung Sipabera, Distrik Tembagapura yang mengakibatkan anggota Brimob Bharada Doni Priyanto gugur.

Kekerasan KKB terus berlanjut pada tanggal 2 Maret dengan menembaki mobil LWB patroli Polsek Tembagapura di Kampung Utikini, kemudian melakukan penembakan terhadap Pos TNI Yonif 754/ENK di Kampung Opitawak pada tanggal 5 dan 6 Maret.

Fasilitas umum juga menjadi sasaran kelompok ini. Mereka membakar bangunan di Blok A Kampung Opitawak pada tanggal 6 Maret, membakar Kantor Desa Opitawak pada tanggal 7 Maret, lalu membakar bangunan GKII Opitawak pada tanggal 13 Maret.

Berikutnya, pada tanggal 9 Maret KKB terlibat baku tembak dengan pasukan Satgas Nemangkawi dan Brimob Satgas Aman Nusa di Kampung Utikini.

Puncak rangkaian kekerasan kelompok itu ketika menyerang pusat perkantoran PT Freeport Indonesia di Kuala Kencana pada tanggal 30 Maret yang mengakibatkan tertembaknya tiga karyawan PTFI, yaitu Graeme Thomas Wall, Ucok Simanungkalit, dan Jibril Bahar.

Graeme Thomas Wall adalah pekerja asal Selandia Baru. Warga negara asing yang bekerja di PTFI kurang lebih 16 tahun ini akhirnya meninggal dunia.

Pada tanggal 11 Maret, KKB menembaki  mobil pembawa bahan maknan dan mobil pengawal di Mile 61, Distrik Tembagapura.
 

Sejumlah senjata api dan alat tajam diamankan aparat saat penggerebekan kamp KKB di Mimika. ANTARA/Evarianus Supar

Penegakan Hukum

Menyikapi serangkaian teror penembakan dan kekerasan itu, Kapolda Papua menegaskan bahwa aparat gabungan TNI dan Polri tidak tinggal diam, tetapi langsung merespons dengan melakukan upaya penegakan hukum.

Pada tanggal 15 Maret, tim gabungan TNI dan Polri menggerebek kamp KKB pimpinan Seltius Waker di Kampung Wini, Distrik Tembagapura.

Sejumlah barang bukti diamankan saat itu, di antaranya berupa satu pucuk senapan AR 15 dengan nomor seri 001237 hasil rampasan dari Polsek Pirime Lanny Jaya pada tanggal 27 November 2012. Senjata itu diketahui milik Briptu Daniel Makuker yang gugur saat penyerangan oleh KKB.

Selain itu, juga diamankan satu pucuk senjata AK 47 dengan nomor seri 3008 perampasan dari Pos Polisi Kurilik Puncak Jaya pada tanggal 4 Januari 2014, satu pucuk senjata rakitan yang diketahui cukup memenuhi standar dan sangat mematikan, satu buah magasin AR 15, satu buah magasin AK 47, serta 11 butir amunisi AR 15 dan 16 butir amunisi AK 47.

Saat penegakan hukum itu, empat anak buah pimpinan Seltius Waker tewas. Mereka teridentifikasi bernama Lani Magai, Noken Waker, Niko Magai, dan Lerai Magai (perempuan).

Penegakan hukum terhadap KKB terus berlanjut pada tanggal 9 April. Tim gabungan TNI/Polri menggerebek sebuah kamp yang dijadikan lokasi persembunyian KKB di Jalan Trans-Nabire, Kampung Jayanti, Distrik Iwaka, Mimika.

Baca juga: Polisi di Mimika tetapkan Ivan Sambom tersangka kasus makar

Baca juga: Pangdam dan Kapolda Papua temui keluarga korban penembakan di Timika

Barang bukti yang diamankan berupa satu pucuk airsoft guns merek Clock, senjata rakitan, 162 butir peluru, 10 selongsong peluru, 20 telepon genggam, dua HT, tiga bendera bercorak bintang kejora, tiga bilah kampak, tiga busur panah, 90 anak panah, 11 bilah parang, tujuh senapan angin, dan 11 potongan atau bagian senapan angin.

Dua anggota KKB tewas dalam penyerangan itu bernama Tandi Kogoya alias Tandi Kiko dan Manu Magai.

Tandi Kogoya alias Tandi Kiko adalah pejabat tinggi KKB yang memegang jabatan sebagai Komandan Batalyon Kogap 8 Kemabu, Intan Jaya di bawah pimpinan Sabinus Waker.

Yang bersangkutan juga diketahui sebagai eksekutor yang menembak mati almarhum Graeme Thomas Wall dan dua pekerja PT Freeport Indonesia lainnya pada tanggal 30 Maret di Kuala Kencana.

Sementara itu, Manu Kogoya teridentifikasi sebagai salah seorang anak buah Lekagak Telenggeng.

Pada saat itu, aparat juga mengamankan Ivan Sambom alias Indius Sambom, pemilik bangunan, tempat persembunyian KKB.

Ivan Sambom atau Indius Sambom diketahui bergabung dalam organisasi KNPB (Komite Nasional Papua Barat) Mimika dengan jabatan sebagai penasihat.

Dia berperan sebagai pemasok logistik, juga memberikan berbagai informasi, kata Irjen Pol. Waterpauw.

Makanya, saat hadir dalam olah TKP di Kantor OB 1 PTFI Kuala Kencana, Kapolda bersama Pangdam XVII Cenderawasih mencurigai ada pihak yang mengarahkan kelompok ini masuk ke area pusat manajemen PTFI.

"Ternyata kecurigaan kami benar sebab Ivan Sambom juga bekerja sebagai sekuriti PTFI," kata Kapolda Papua.

Sehari setelah menggerebek kamp lokasi persembunyian KKB di Jalan Trans-Nabire, aparat gabungan TNI/Polri kembali menggerebek kamp KKB di Gunung Botak, Distrik Tembagapura. Di lokasi ini, aparat menembak mati seorang anggota KKB bernama Penderita Walia yang diketahui merupakan anak buah Lekagak Telenggeng.

Penderita Walia dikenal sebagai penembak jitu di kelompok KKB pimpinan Lekagak Telenggeng.

Baca juga: TNI-Polri kembali lumpuhkan satu anggota KKB ditembak mati

Turut diamankan di lokasi itu sejumlah barang bukti, di antaranya satu pucuk senjata api SS1 P1 THT dengan nomor seri 695381 yang merupakan senjata rampasan dari Pos Polisi Kurilik Puncak Jaya pada tanggal 4 Januari 2014 dan satu magasin SS1 dengan 17 butir amunisi kaliber 5,56 mili meter.

Kapolda Papua menegaskan jajarannya didukung pihak TNI terus memperkuat pengamanan di wiilayah Mimika, terutama di Kota Timika, Kuala Kencana, dan Tembagapura.

Apalagi, kata dia, area ini sudah dinyatakan sebagai area perang oleh KKB mulai dari Tembagapura sampai Kuala Kencana, bahkan sampai di Kota Timika.

"Itu artinya cepat atau lambat mereka akan memasuki area ini. Kekuatan sudah kami susun untuk mengamankan Timika, Kuala Kencana, termasuk Tembagapura," kata Irjen Pol. Waterpauw.

Mantan Kapolda Sumatera Utara itu menegaskan bahwa penegakan hukum terhadap KKB tetap berlanjut.

Penegakan hukum ini tidak lepas dari upaya TNI/Polri mengamankan warga masyarakat, keluarga besar PT Freeport Indonesia, pemerintah daerah, termasuk karyawan baik karyawan orang Indonesia sendiri maupun karyawan warga negara asing yang sama-sama bekerja di area ini.

Kapolda Papua Irjen Polisi Paulus Waterpauw dan Pangdam XVII Cenderawasih Mayjen TNI Herman Asaribab menunjukkan foto salah satu anggota KKB yang tewas saat penegakan hukum oleh aparat TNI/Polri. ANTARA/Evarianus Supar

Dukungan TNI

Panglima Kodam XVII Cenderawasih Mayjen TNI Herman Asaribab menegaskan bahwa TNI mendukung berbagai langkah dan upaya penegakan hukum terhadap KKB.

TNI mendukung semua kegiatan jajaran kepolisian untuk melakukan pengejaran dan membongkar semua jaringan yang memberikan dukungan kepada KKB. Keberhasilan penindakan terhadap KKB ini merupakan hasil sinergitas antara TNI dan Polri yang pelaksanaannya secara terencana, terpilih, terukur, dan efektif.

Pangdam juga meminta dukungan seluruh masyarakat setempat untuk mengajak para tokoh dan simpatisan bersenjata separatis Papua agar kembali ke pangkuan NKRI.

Manajemen PT Freeport Indonesia yang diwakili oleh Arief Nasuha selaku Vice President Bidang Security and Risk Management mengapresiasi keberhasilan tim gabungan TNI/Polri dalam mengungkap pelaku penembakan di pusat perkantoran PT Freeport Indonesia Kuala Kencana pada tanggal 30 Maret.

Baca juga: Jubir Freeport: Pengamanan Kuala Kencana ditingkatkan

"Kami mengucapkan terima kasih dan selamat atas keberhasilan TNI/Polri," kata Arief.

Upaya bersama aparat TNI/Polri dalam menumpas kelompok bersenjata Papua yang selalu melakukan berbagai teror penembakan dan kekerasan lainnya perlu mendapat dukungan dari semua pihak tanpa terkecuali agar masyarakat setempat bisa menikmati suasana hidup yang lebih aman, tenteram, dan damai.

Oleh Evarianus Supar
Editor: D.Dj. Kliwantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Sumber ArtikelAntaranews

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.