Beranda Informasi Mantan kadis di Bener Meriah jadi tersangka korupsi Rp16,5 miliar

Mantan kadis di Bener Meriah jadi tersangka korupsi Rp16,5 miliar

Mantan kadis di Bener Meriah jadi tersangka korupsi Rp16,5 miliar

Pengadaan penangkap hama tanaman kopi ini dibiayai APBN 2015 dengan anggaran Rp48,150 miliar. Hasil audit terhadap kerugian negara proyek ini mencapai Rp16,5 miliar.

Banda Aceh (ANTARA) – Kepolisian Daerah (Polda) Aceh menetapkan mantan Kepala Dinas (Kadis) Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Bener Meriah berinisial AR sebagai tersangka dengan kerugian negara Rp16,5 miliar.

Kepala Bidang Humas Polda Aceh Kombes Ery Apriyono, di Banda Aceh, Rabu, mengatakan tersangka AR diduga terlibat korupsi pengadaan penangkap hama tanaman kopi.

"Pengadaan penangkap hama tanaman kopi ini dibiayai APBN 2015 dengan anggaran Rp48,150 miliar. Hasil audit terhadap kerugian negara proyek ini mencapai Rp16,5 miliar," kata Kombes Ery Apriyono.
Baca juga: Bupati Bener Meriah diduga kumpulkan uang dari pengusaha untuk suap Gubernur Aceh

Didampingi Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Aceh Kombes T Saladin, Kombes Ery Apriyono menyebutkan, tersangka AR merupakan kuasa pengguna anggaran (KPA) proyek tersebut.

Selain AR, penyidik juga menetapkan pejabat pembuat komitmen (PPK) berinisial T, kontraktor atau rekanan berinisial MU, serta TJ, selaku rekanan yang menerima subkontrak pekerjaan pengadaan penangkap hama tanaman kopi.

Perwira menengah Polri itu menyebutkan, proyek tersebut dilaksanakan PT Jaya Perkara Grup. Modus dugaan korupsi dilakukan dengan menggelembungkan harga alat penangkap hama kopi hingga dua kali lipat.

"Penyelidikan kasus korupsi ini lebih dari dua tahun, mulai 2016 hingga September 2018. Kasus ini ditingkatkan ke penyidikan sejak 3 September 2018," ujar Kombes Ery Apriyono.
Baca juga: Gubernur Aceh-Bupati Bener Meriah ditetapkan sebagai tersangka suap Dana Otsus Aceh

Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Aceh Kombes T Saladin menambahkan, dalam kasus ini penyidik sudah memeriksa 50 saksi, dua di antaranya saksi ahli dari BPKP dan lembaga lelang pemerintah.

Baca Juga :  PWI Aceh Tengah kecam pengeroyokan wartawan ANTARA di Meulaboh
Baca Juga :  Menko Airlangga imbau Pemda bantu sosialisasikan Kartu Pra Kerja

"Keempat tersangka tidak ditahan karena kooperatif. Penyidik juga menyita barang bukti mencapai Rp4,3 miliar. Terdiri uang tunai Rp2,3 juta dan dua bidang tanah dengan harga perkiraan Rp2 miliar," kata Kombes T Saladin.

Pewarta: M.Haris Setiady Agus
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Sumber ArtikelAntaranews

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Must Read

Yakin ekspor naik, Kemendag: Produk makanan minuman dibutuhkan dunia

Yakin ekspor naik, Kemendag: Produk makanan minuman dibutuhkan dunia Produk makanan dan minuman sangat dibutuhkan duniaJakarta (ANTARA) - Kementerian Perdagangan (Kemendag) optimistis dapat meningkatkan...

MARI MEMBACA KOPI TERKUAT DI DUNIA

Pembaca Sekalian, anda senang minum kopi? Sudah paham jenis-jenis biji kopi yang populer di dunia? Kalau kamu pencinta kopi, yuk cari mengerti kopi...

Ekspor timah ke Singapura anjlok pada semester I 2020

Ekspor timah ke Singapura anjlok pada semester I 2020 Jika dibanding Januari-Juni 2019, ekspor timah ke Singapura pada tahun ini turun sekitar 71,01 persenPangkalpinang...

TNI di Mamuju bagikan 1.000 masker di pasar tradisional

TNI di Mamuju bagikan 1.000 masker di pasar tradisional Mamuju (ANTARA) - Kodim 1418 Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Barat membagikan 1.000 masker kepada para...

Waspada, Trans Sulawesi poros Taweli-Toboli rawan longsor

Waspada, Trans Sulawesi poros Taweli-Toboli rawan longsor Di sepanjang ruas jalan nasional itu sering terjadi tabrakan dan juga tanah longsorPalu (ANTARA) - Jajaran Dinas...