Kementan tingkatkan hilirisasi industri kakao-kopi Sulsel

Kementan tingkatkan hilirisasi industri kakao-kopi Sulsel

Kementan tingkatkan hilirisasi industri kakao-kopi Sulsel

Jakarta (ANTARA) – Kementerian Pertanian melalui Ditjen Perkebunan berupaya meningkatkan produksi melalui program hilirisasi industri terhadap produk perkebunan petani seperti kakao dan kopi di Luwu Raya dan Tana Toraja, Sulawesi Selatan.

Dalam kunjungannya ke Luwu dan Tana Toraja, Sulawesi Selatan, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan melalui program ini, produk perkebunan seperti kakao dan kopi mampu dikelola secara baik, karena produk yang dijual petani tidak hanya dijual dalam bentuk segar, tetapi juga dalam bentuk olahan yang dapat meningkatkan pendapatan sekaligus kesejahteraan bagi petani.

"Dengan hilirisasi, diharapkan program ini memberikan nilai tambah pada produk perekbunan, bahkan bisa mencapai 1.000 persen," kata Menteri Amran di lokasi peremajaan kakao daerah Kamanre, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, Senin.

Ada pun hilirisasi industri produk perkebunan ini dilakukan melalui pemberian bantuan bibit, alsintan dan pendampingan bimbingan teknis.

Amran menilai produk olahan Indonesia harus lebih baik dari produk negara-negara lain. Ia mencontohkan bahwa wisatawan yang berkunjung ke Singapura pasti membawa buah tangan beragam produk dan olahan cokelat. Padahal, seluruh bahan baku pembuatan cokelat tersebut berasal dari Indonesia.

"Harga bahan dasar sekitar Rp19.000 sampai Rp20.000, namun bisa naik 2.000 persen karena 'processing' di sana. Nilai tambahnya di negara lain, harusnya prosesi kakao ada di sini," katanya.

Menurut Amran, hilirisasi industri untuk skala kecil akan memakan anggaran sekitar Rp500 juta sampai Rp1 miliar untuk pengolahan produk cokelat dari kakao.

Dalam kesempatan yang sama, Bupati Luwu Basmi Matta menilai kebijakan dan program Kementan dalam mengembalikan kejayaan rempah, khususnya kakao dan kopi harus didukung semua pihak.

Baca Juga :  BELAJAR SEDUH KOPI AROMA DI KANTOR

Berdasarkan data BPS, sepanjang 2018, produksi kakao menyentuh angka 24.260 ton, dengan luas lahan 35.311 hektare. Namun produktivitasnya semakin menurun karena umur tanaman yang sudah tua.

"Jika program ini berjalan, kami yakin dapat meningkatkan pendapatan petani. Produktivitas naik dan ditambah lagi dengan dibangunya hilirisasi industri kakao dan kopi," kata Basmi.

Pada tahun ini, Kementan menggelontarkan bantuan untu Luwu Raya meliputi Kabupaten Luwu, Palopo, Luwu Utara dan Luwu Timur sebanyak Rp56,23 miliar. Bantuan tersebut berupa benih, alat mesin pertanian dan ternak.

Sementara untuk bantuan peremajaan kopi di Tana Toraja mencapai 400 hektare dengan total nilai Rp 3,08 miliar. Adapun untuk Kabupaten Toraja Utara luasnya mencapai 300 hektare dengan total anggaran Rp2,85 miliar.

Pewarta: Mentari Dwi Gayati
Editor: Budi Suyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Sumber ArtikelAntaranews

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.